Seorang Ayah Tidak Dihormati?

Matius 23:9—”Bagaimana bisa Isa Al-Masih mengajarkan pengikut-Nya untuk tidak memanggil siapapun bapa di bumi. Bukankah seorang ayah seharusnya dihormati?”

Memahami konteks bagian ini sangat penting untuk menafsirkan dengan benar. Dalam bagian ini Isa Al-Masih menentang nafsu orang Farisi dan ahli Taurat Yahudi untuk mendapatkan penghormatan yang berlebihan, sekelompok orang yang sangat mirip dalam banyak hal dengan alim ulama Islam. Di sini Isa Al-Masih sedang membahas:

1. Nafsu mereka untuk gelar panjang demi penghormatan berlebihan yang dapat dilihat kini melekat pada nama-nama banyak ulama Al-Hajj, Pir, Hazrat Maulana Huzur, Saheb, Mahbub-e-Khoda… dan masih banyak lagi. Selain dipanggil dengan sebutan “rabbi” dan “tuan” ( ustad ), orang Farisi juga dipanggil dengan sebutan ‘bapa’, dan beberapa ulama masih dipanggil dengan sebutan itu saat ini. Isa Al-Masih menggunakan hiperbola (gaya bahasa berlebihan), sebagaimana biasa Dia gunakan untuk mengajar, untuk mengutuk sikap hormat yang berlebihan dari seorang murid kepada guru yang hanyalah manusia yang tidak sempurna.

2. Pola pikir di balik sebutan-sebutan untuk orang yang dianggap berkuasa (umum digunakan sekarang ini di banyak hubungan guru-Shishya ) yang mengharapkan ketaatan buta kepada manusia yang bisa salah tanpa mencari kekuasaan yang lebih tinggi.

 

Berkenaan dengan konteks bagian ini, kita harus memahami yang dimaksud Isa Al-Masih dengan sebutan ‘bapa’ di sini hanyalah dalam hal keagamaan sama seperti sebutan ‘Rabi’ atau ‘guru’ bagi para ulama-Isa Al-Masih mengutuk kecenderungan untuk menganggap ulama sebagai ‘bapa’ yang sempurna dalam kebenaran. Sebutan ‘bapa’ yang diterapkan kepada ulama dalam struktur agama bisa membesar-besarkan wewenang ulama dari yang seharusnya, begitu juga dengan sebutan ‘rabbi’ dan ‘guru’. Isa Al-Masih mengutuk baik ulama yang mengklaim gelar-gelar mulia dan orang awam yang menyebut mereka dengan gelar-gelar ini. Kita harus menafsirkannya sedemikian rupa karena hal-hal berikut:

1. Seluruh khotbah Isa Al-Masih di sini dipusatkan secara khusus untuk mengkritik ahli Taurat dan orang Farisi, konyol sekali jika kita beranggapan bahwa di tengah-tengah kotbah-Nya, Dia tiba-tiba beralih membahas topik lain, yaitu hubungan kekeluargaan dalam sepenggal kalimat dan kemudian kembali mengkritik orang-orang Farisi.

2. Jika kita menafsirkan ayat ini sebagai larangan penggunaan sebutan ‘bapa’ dalam hubungan kekeluargaan, maka ayat lainnya dalam bagian dan konteks yang sama menjadi tidak masuk akal.

3. Isa Al-Masih berulang kali menekankan pentingnya menghormati ayah dan ibu, yang setidaknya ditunjukkan dengan memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu. Dia tidak pernah mengutuk nabi sebelumnya yang memanggil orang tua mereka dengan sebutan ‘bapa’ atau ‘ibu’.

4. Pengikut Isa Al-Masih sepanjang sejarah tidak pernah menafsirkan ayat ini sebagai larangan memanggil ayah kandung dengan sebutan “bapa.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.